Baca Ulang Buku Raditya Dika, Kambing Jantan

Tanggal
Waktu baca
3 menit
Penulis
mentionsiska

Buku non fiksi karya Raditya Dika yang populer di tahun 2012 ini aku beli waktu mulai kuliah di Malang, dan ternyata setelah aku cek, cetakan pertama buku ini ada di tahun 2005. Ternyata cukup lumayan lama dari aku beli bukunya.

Buku ini berisi tentang diary kecil dari Radit waktu masa sekolah SMA di Jakarta dan saat masa kuliahnya di Adelaide, Australia. Di buku Kambing Jantan ini memang nggak dibahas spesifik apa sih kambing jantan itu, namun setelah aku baca keseluruhan, Kambing Jantan itu ya Radit itu sendiri. Dari semua tingkah konyol dan absurdnya dia saat SMA sampai dia kuliah. Macam kambing jantan memang.

Tapi yang menarik dari buku Kambing Jantan karya Raditya Dika ini, aku bisa mengambil poin-poin yang ternyata kalau aku baca ulang di tahun 2026 ini baru ngeh kalau Raditya Dika memang full of support dan privillege dari kedua orang tuanya. Meskipun dalam bukunya Radit suka sekali nyeritain bagaimana absurd dan konyolnya keluarga persilangan Batak dan Jawa.

Seperti di bagian “Tipiku sayang, tipiku malang”, disini Radit menceritakan bahwa di kamarnya sudah ada TV khusus buat dia sendiri, meskipun TV tabung yang kalau rewel harus di tabok dulu baru nyala. Misalnya kita tarik ke tahuun milenial 2000-an, belum banyak anak seusia SMA yang punya TV sendiri di kamar. Apalagi di daerah kota di beberapa daerah di Pulau Jawa.

Namun akupun jadi punya angan-angan nantinya kalau sudah memiliki rumah, akan memasang TV di kamar (meskipun saat ini ditulis, TV di rumah juga masih ada di ruang tamu) Namanya juga manifestasi, jadi kita tulis aja dulu.

Pada bagian lain, Radit juga menyampaikan dia memiliki mobil yang dia gunakan sebagai samsak latihan dia belajar mobil, pakai mobil merk Timor. Aku baru ngeh di tahun 2017-an, kalau mobil Timor itu salah satu mobil karya anak bangsa yang memiliki kualitas bagus dan murah pada jamannya.

Nggak bisa dipungkiri bahwa Radit memang kaya jika kita baca tulisannya di buku Kambing Jantan. Dari kekayaan harta dan privillege yang dia punya, aku jadi tahu bahwa itu bisa terjadi karena support system kedua orang tuanya, sehingga seorang anak berani melakukan eksplorasi dan eksperimen terhadap segala sesuatu yang terjadi di hidupnya, tanpa rasa takut dimarahi atau diremehkan kemampuannya sama orang tuanya.

Salah satu bagian yang menurutku keberuntungan Radit adalah, saat dibagian Radit ikut test masuk UI, dan diterima, namun endingnya dia malah berkuliah di Adelaide karena sudah di daftarkan oleh orang tuanya. Sangat beruntung memiliki orang tua seperti ortunya Raditya Dika.

Dari sudut pandangku yang membaca ulang buku Kambing Jantan di tahun 2025 ini, banyak pemikiran lain yang aku temukan di buku Kambing Jantan ini. Bisa dibilang cerita harian Radit itu masih relatable hingga saat ini. Timeless lah kataku.

Dari buku Kambing Jantan ini, juga mengajarkan manusia umur kepala 3 ini untuk tetap berani mencoba hal (konyol) baru lainnya, tanpa takut akan sentimen dari masyarakat dan lingkungan sekitar yang toxic.

Mulai buku Kambing Jantan ini, kamu akan bisa melihat isi pikiran Radit yang polos, konyol dan absurd, namun tulisan yang dia tulis mampu membuat pembaca serasa ikut merasakan kekonyolan yang dilalui Radit pada tiap lembar bukunya.

Buku ini bisa dibilang buku santai, tapi nggak sesantai itu juga, beberapa part aku bisa memahami candaannya saat re-read di tahun 2025 ini.

Jadi apakah buku Kambing Jantan adalah buku yang menarik? Aku secara pribadi menilai SANGAT MENARIK. Dan pastinya bisa membuat kita belajar menulis dengan gaya yang santai namun otentik.

Tinggalkan komentar